Catatan Si Kaswo (CsK)

pergi karena tugas….pulang karena beras

BAHASA INDONESIA DALAM NASKAH DINAS

IMG_20130317_080343Penggunaan Bahasa Indonesia dalam tata naskah dinas haruslah sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, yaitu sesuai dengan situasi dan sekaligus sesuai pula dengan kaidah. Mari kita sama-sama mencermati penggunaan Bahasa Indonesia ini dalam tata naskah dinas di berbagai instansi pemerintahan. Banyak naskah dinas yang kita jumpai belum sesuai dengan kaidah bahasa, padahal ini adalah pelajaran anak sekolah sewaktu kita masih duduk dibangku SMP saat kita belajar dari bukunya Gorrys Keraf atau JS Badudu. Disini tidak sedang menggurui sebagai seorang muslim berkewajiban saling mengingatkan-barangkali sahabat sudah lupa dengan pelajaran Bahasa Indonesia saat 25 (dua puluh lima) tahun lalu.

Sebagai contoh dalam penulisan naskah dinas seperti berikut ini; Sehubungan dengan kegiatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2013, kami mengharapkan para pejabat eselon I untuk mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan tersebut di masing-masing unit. Kata mengkoordinasikan dalam bahasa “kebiasaan” seolah-olah betul dan enak dibaca, tapi mari kita lihat pelajaran SMP kita dulu tentang hukum K-P-T-S. Hukum KPTS adalah hukum yang membuat kata kerja berawalan K, P, T dan S menjadi lebur ketika mendapatkan imbuhan me-, men-, meng-, menge-, meny-, menye-,  seperti; taati apabila mendapat imbuhan me maka menjadi menaati bukan mentaati. Contoh lainnya; sisir maka menjadi menyisir bukan mensisir. Kata sukses menjadi menyukseskan bukan mensukseskan atau kata sosialisasi menjadi menyosialisasikan bukan mensosialisasikan. Sehingga kata mengkoordinasikan menjadi mengoordinasikan. Namun ada kalanya peleburan tersebut tidak berlaku apabila kata kerja K, P, T, S huruf keduanya diikuti dengan huruf konsonan juga, contoh pada kata proses menjadi memproses bukan memroses atau khusus menjadi mengkhususkan. Bahwa selama puluhan tahun kita memakai mempengaruhi, mempunyai, memperhatikan, mengkonsumsi, mempopulerkan… semata-mata akibat kebiasaan saja. Salah kaprah. Kesalahan yang dibiasakan terus-menerus sehingga dianggap benar. Kalau mengacu pada hukum KPTS tersebut maka seharusnya menjadi memengaruhi, memunyai, memerhatikan, mengonsumsi, memopulerkan… sebab, konsonan tak bersuara [k, p, t, s] memang harus luluh. Lihat bahasa naskah dinas di berbagai instansi pemerintahan masih menuliskan kata “Memperhatikan”

Dalam berbahasa, baik secara lisan maupun tulis, kita sebenarnya tidak mengunakan kata-kata secara lepas. Akan tetapi, kata-kata itu terangkai mengikuti aturan atau kaidah yang berlaku, sehingga terbentuklah rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan itu dinamakan kalimat. Anda yang bekerja di perkantoran mungkin sering menemukan kalimat dalam naskah dinas pada alinea pertama paragraf pembuka yang diawali dengan kalimat “Menindaklanjuti surat Saudara nomor sekian tanggal sekian – ada juga yang menggunakan kalimat “Memperhatikan surat saudara” – “Merujuk surat saudara,..dan seterusnya. Mari kita ingat-ingat lagi sewaktu kita sekolah duduk di bangku SMP bahwa ketiga kata tersebut akan menjadi indah apabila ada kata penghubung (konjungtor), mungkin inilah contoh yang tepat untuk mengawali paragraf pertama dalam naskah dinas “Sehubungan dengan surat Saudara Nomor sekian tentang …, kami menyampaikan jawaban sebagai berikut”.

Kemudian kita juga sering menggunakan huruf yang ditebalkan (bold) untuk hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam sebuah naskah dinas. Menurut Pusat Bahasa, untuk menuliskan huruf, kata, atau istilah yang dikhususkan/ditegaskan cukup ditulis dengan huruf miring sebagaimana menuliskan kata atau istilah asing, termasuk istilah ilmiah, dan kata atau istilah dari bahasa daerah. Begitupula dalam penulisan huruf kapital. Huruf kapital seluruhnya digunakan untuk menuliskan  judul utama, judul bab, judul kata pengantar, daftar isi, dan daftar pustaka. Sementara huruf kapital pada setiap awal kata digunakan untuk menuliskan judul-judul subbab, nama Tuhan, nabi, agama, dan kitab suci, nama diri, nama tahun, bulan, dan hari, nama gelar, jabatan, dan pangkat, nama-nama geografi dan sapaan.

Singkatan umum yang diambil dari awal kata harus ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik kecuali nama orang seperti; Hak Asasi Manusia menjadi HAM dan singkatan nama orang seperti Purwanto Hadi Subroto apabila disingkat menjadi Purwanto H.S. atau Haji Rangkayo Rasuna Said menjadi H. R. Rasuna Said apabila yang bersangkutan memiliki gelar maka harus menggunakan titik seperti H. R. Rasuna Said, S.H. berarti Haji Rangkayo Rasuna Said Sarjana Hukum.

Kemudian dalam naskah dinas, kita juga sering membaca kata “mohon perkenan tanda tangan” kata tanda tangan dituliskan secara terpisah kecuali ada kata awalan dan akhiran seperti penandatanganan, pertanggungjawaban, dan lain sebagainya.

Mari kita gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar dalam menuliskan naskah dinas. Banyak kata-kata asing yang sudah diindonesiakan seperti kata workshop menjadi lokakarya, follow up menjadi tindak lanjut, snack menjadi kudapan dan lain sebagainya.

Akhirnya gaya bahasa memang merupakan hak asasi seseorang (penutur bahasa). Oleh karena itu, konseptor seyogianya mengetahui dengan baik gaya bahasa penanda tangan surat dinas. Dengan saling memperhatikan hal tersebut, baik konseptor maupun penanda tangan, dapat diduga komunikasi yang terjalin melalui tulisan itu akan berjalan dengan baik dan lancar, di samping tercerminnya citraan birokrasi yang baik (good governance). Semoga bermanfaat – Jazakumullah khoirran (Sumber: Drs. Mustakim, M.Hum. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, buku-buku Bahasa Indonesia karya Gorrys Keraf dan JS. Badudu)

2 comments on “BAHASA INDONESIA DALAM NASKAH DINAS

  1. nandawulandhari
    28 Januari 2015

    sangat membantu untuk menyelesaikan tugas bindo. Terimakasih

    • kaswo
      2 Februari 2015

      Sama-sama ananda wulandhari semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya di blog saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Mei 2013 by .

Pos-pos Terbaru

Kategori

%d blogger menyukai ini: