Catatan Si Kaswo (CsK)

pergi karena tugas….pulang karena beras

bahasa indonesia, nasibmu kini…

Jakarta, (CsK)– Besok, hari minggu tanggal 28 Oktober 2012 kita segenap warga negara Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Hari dimana pada 84 tahun yang lalu para pemuda Indonesia berikrar, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saya ingin membahas ikrar yang ketiga Bahasa Persatuan, karena sedih dengan kondisi saat ini dimana Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan tapi seperti tamu di negaranya sendiri. Padahal Sejak 9 Juli 2009 keberadaan dan penggunaan bahasa Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang ”Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan”. Walaupun telah diatur oleh Undang-Undang namun penggunaan Bahasa Indonesia sudah mulai jarang digunakan pada area publik bahkan instansi pemerintah sebagai lembaga negara. Disinilah keprihatinan kita sebagai orang Indonesia, bagaimana bahasa Indonesia bisa sebagai bahasa internasional sebagaimana amanat Undang-Undang tersebut, kalau pejabatnya, kantor pemerintahnya, bahkan keset di kantorpun ikutan berbahasa asing “WELCOME“.

Contoh berikutnya, saya juga masih melihat bangunan/gedung kantor pemerintah lebih suka menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia seperti Legal Authority dan lain sebaginya. Padahal Pasal 36 ayat 2 Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 jelas menyebutkan penggunaan Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. Kemudian Pasal 38 berbunyi Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum.

Harus disadari bahwa Undang-undang ini dibuat dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, menjaga kehormatan dan menunjukkan kedaulatan bangsa dan negara, serta menciptakan ketertiban, kepastian, dan standardisasi penggunaan bahasa, yang berfungsi sebagai jati diri bangsa dan kebanggaan nasional; juga dikukuhkan sebagai bahasa resmi NKRI. Dengan demikian, bahasa Indonesia ”wajib” digunakan dalam pidato resmi para pejabat negara, ”wajib” digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan nasional, ”wajib” digunakan dalam pelayanan administrasi, ”wajib” digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta, dan ”wajib” digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia.

Harapan saya, ke depan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 bisa direvisi dengan penambahan sanksi, sehingga penyalahgunaan bahasa pada kesempatan tertentu bisa diancam dengan denda atau penjara. Maka, apabila ada perusahaan yang ngotot menyebut produknya sebagai body wash daripada sabun dapat saya laporkan. Dunia propertipun lebih senang menggunakan nama bahasa asing seperti Living World, The Flavor Bliss daripada Pusat Jajanan dan jangan-jangan kantor Polisipun lebih senang ditulis sebagai Police.

Akhirnya kita simak sebuah ungkapan yang sering kita dengar Bahasa menunjukan bangsa. Semoga tulisan ini bermanfaat, tidak bermaksud menyinggung siapapun, Lillahi taala. Wassallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Oktober 2012 by .

Pos-pos Terbaru

Kategori

%d blogger menyukai ini: