Catatan Si Kaswo (CsK)

pergi karena tugas….pulang karena beras

Mengenang Pak Domo (Laksamana TNI (Purn) Sudomo

Laksamana TNI (Purnawirawan) Sudomo lahir di Malang, Jawa Timur, 20 September 1926 dan meninggal di Jakarta, 18 April 2012 dalam usia 85 tahun. Beliau adalah seorang petinggi militer yang terkenal pada masanya karena jabatannya sebagai Panglima Komando dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Berbagai jabatan di negeri ini pernah disandangnya antara lain; Kepala Staff Angkatan Laut pada tahun 1969-1973, menjabat Kaskopkambib di tahun 1973-1978 dan Pangkobkamtib dari tahun 1978-1983. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pada periode 1983-1988, kemudian Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dari tahun 1988-1993, dan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada periode 1993 hingga 1998.

Semasa Pangkopkamtib, dengan segala kewenangannya beliau bisa menahan atau membebaskan orang yang dianggap kriminal atau lawan-lawan Politik Orde Baru pada saat itu. Banyak Ulama dan tokoh Islam yang ia tangkap pada masa itu seperti Kelompok Petisi 50 dan lain-lain.

Seperti yang ditulis oleh Imam Puji Hartono (IPH) di Kompasiana bahwa Pak Domo setelah tak lagi menjabat di pemerintahan, akhirnya memantapkan diri untuk kembali ke jalan Allah Swt. Tak hanya itu saja, ada sebuah pengalaman yang mungkin tak akan pernah dilupakannya saat memutuskan untuk kembali menjadi seorang mualaf. Kejadian itu dialaminya saat ia merindukan ketenangan hati dan kembali pada keyakinannya semula. ”Kasih sayang Allah pada hamba-Nya lebih luas daripada murka-Nya.” Sudomo merasakan betul makna ayat itu. Waktu membawanya ke kota kelahirannya, Malang. Saat itu, bertepatan 22 Agustus 1997, ia mengunjungi Masjid Al-Huda di kompleks Kostrad, Malang, Sudomo seakan-akan mengalami sebuah perubahan besar dalam hidupnya. Sesuatu telah mendorong dirinya untuk kembali menelusuri jalan Allah dan kembali menunaikan ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah. “Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa, saya seakan-akan mendapatkan petunjuk. Mungkin ini berkat doa dari kedua orang tua saya,” katanya.

Tonggak yang mampu mengubah hidup seorang ‘murtad’ menjadi sosok bayi yang lahir kembali dan menapaki jalan menuju keridhoan Illahi. Tepat tanggal 22 Agustus 1997, Sudomo pun dengan lantang mengucapkan kalimat syahadat dan kembali menjadi seorang musl

”Itu peristiwa luar biasa. Nama masjid itu sendiri Al Huda berarti petunjuk. Dan di situ saya mendapat petunjuk. Mungkin ini hikmah dari doa orang tua saya yang selalu berdoa agar saya kembali,” kenang Sudomo waktu itu.

Peristiwa itu laiknya sebuah kelahiran bagi dirinya dan anugerah yang luar biasa dari Yang di Atas. ”Saya sangat senang diberi kesempatan bertobat. Bayangkan kalau saya meninggal sebelum bertobat bisa-bisa masuk neraka saya,” ujarnya.

Setahun setelah kembali menjadi seorang muslim, Sudomo menikah kembali dengan seorang muslimah dan beliau menunaikan ibadah haji untuk memperbaiki tingkat keimanannya kepada Allah. Pernikahannya yang ketiga tersebut kembali kandas pada tahun 2002. Setelah perceraian pada pernikahan ketiga tersebut, Sudomo memutuskan untuk tidak menikah kembali. “Saya hanya ingin mendalami agama, mengurusi yayasan, dan cucu saja,” ujarnya

Di akhir hayatnya, Sudomo giat Dalam Aktivitas Sosial Setelah Menjadi Mualaf antara lain ia mendirikan Yayasan Husnul Khatimah pada tahun 1999. Sudomo juga aktif di Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki). Organisasi ini bergerak dalam bidang penanggulangan penyakit stroke, yang mencakup sosialisasi dan pencegahan penyakit stroke. Salah satu tindakan nyatanya adalah dengan mendirikan Klinik Nusantara Stroke & Medical Center yang kemudian berganti nama menjadi Nusantara Medical Center.

Ia pernah bercerita bahwa, saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1998, ada sebuah kejadian religi yang dialami Sudomo ketika tengah melakukan tawaf. Dengan dibarengi rasa ikhlas dan niat tulus untuk mendekati bangunan Ka’bah, Sudomo berusaha untuk mendekati Ka’bah. Namun usahanya tersebut kerap gagal karena banyaknya jamaah haji lain yang berjejalan di depan Ka’bah. Apalagi, jamaah haji yang berasal dari negara-negara Afrika yang berpostur tinggi besar. Ia mengalami kesulitan dikala harus ‘melawan’ tubuh besar para jamaah lainnya.

Akhirnya, seperti ada yang membimbing, Sudomo mengucapkan asmaul husna sembari berusaha untuk mendekati Ka’bah. Secara mengejutkan, barisan orang di depan Sudomo langsung terbuka dan seolah-olah memberikan jalan baginya untuk mendekati bangunan Ka’bah. Di tengah kerumunan orang, ia berlenggang menuju Ka’bah tanpa harus berdesak-desakan dengan jamaah haji lainnya. “Bahkan ustadz yang menjadi pembimbing saya sampai-sampai mengikuti dari belakang,” kenang Sudomo yang telah menunaikan ibadah Umrah sebanyak lima kali.

Rasa bahagia bercampur haru menyelimuti dirinya ketika ia berhadapan langsung dengan kemegahan Ka’bah. Ia pun sempat termenung sejenak ketika pandangan matanya tertuju pada rumah yang menjadi kiblat bagi seluruh umat Islam seluruh dunia tersebut. Dengan melihat bangunan Ka’bah itu, Sudomo merasa bahwa sebuah doa bila dipanjatkan dengan tulus dan ikhlas akan segera dikabulkan Allah. Sejak saat itulah, Sudomo semakin memantapkan hatinya untuk kembali memungut puing-puing keimanannya yang sempat hancur berkeping-keping akibat emosi sementara saja.

Sudomo sendiri telah menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1998 dan 2002. Naik haji pertama dilakukannya tepat setahun setelah ia menjadi mualaf. Sedangkan tahun 2002, merupakan tahun di saat perceraian pada pernikahan ketiganya terjadi.

Dalam sebuah wawancara pada tahun 2001, di usianya yang ke-75, mantan Pangkopkamtib di era Soeharto justru menemukan hidupnya. ”Kalau orang lain berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun,” kata Sudomo

Bukan tanpa alasan bila penggemar olahraga golf ini berkata demikian. Dia mengaku hampir sebagian besar usianya dilalui dengan gundah dan gelisah. Salah satu penyebabnya karena sosok yang menghabiskan sebagian besar umurnya – 53 tahun di pemerintahan dengan berbagai jabatan -sebagai umaro ini pernah murtad. Itu semua menjadi penyebab jauhnya ketenangan dari hidupnya.

”Terus terang saja dan bukan rahasia umum, saya dulu kan murtad,” kata Sudomo sambil tertawa. ”Dan celakanya semua itu saya lakukan tanpa pikir panjang dan memberi tahu orang tua,” lanjutnya.

Terkait penahanannya terhadap tokoh-tokoh Islam termasuk AM Fatwa, Abdul Qadir Jaelani dll, Sudomo-pun pernah meminta maaf secara terbuka pada tahun 1997.

”Terus terang, tindakan tersebut sama sekali bukan didasarkan terhadap sentimen agama. Karena setiap agama itu baik. Karena itu saya mohon maaf kepada ulama dan umat Islam. Mohon maaf yang sedalam-dalamnya,” tandas Sudomo.

Sebagai keluarga Besar Angkatan Laut, nama Laksamana Sudomo sangat akrab ditelinga saya sejak kecil. Almarhum Bapak sering bercerita kala ia sempat menjadi anak buahnya, dan beliau memanggilnya dengan sebutan “Pak Domo”.

Semasa menjabat Menteri, Pak Domo pernah berujar di hadapan para wartawan “Saya tidak bangga dipanggil pak menteri. Saya lebih bangga dipanggil laksamana.”

Hari ini, Rabu 18 April 2012, tepat jam 10.05 WIB, Laksamana Sudomo gugur di RS Pondok Indah akibat serangan stroke sejak Minggu lalu. Saya mendengarnya sekitar 2 jam kemudian dari sebuah BBM teman saya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

Agama mengajarkan kepada kita untuk membicarakan orang yang telah meninggal dunia hanya kebaikannya saja. Dan Agama melarang kita membicarakan kejelekan orang yang telah meninggal dunia, karena ia telah mempertanggungjawabkannya langsung di depan Sang Khalik.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu wa taqabbala a’malahu waj’al al-jannata maswahu.Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lana wa lahu.

Betapa hatiku tak kan piluuu

telah gugur pahlawanku

betapa hatiku tak kan sedih

hamba ditinggal sendiriii

telah gugur pahlawanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 April 2012 by .

Pos-pos Terbaru

Kategori

%d blogger menyukai ini: