Catatan Si Kaswo (CsK)

pergi karena tugas….pulang karena beras

Perjalanan Umroh Jilid 1

Alhamdulillah atas berkah dan rahmat Allah SWT, kami diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah umroh pada tanggal 1 s/d 13 Februari 2012 sehingga kami dapat berkesempatan melaksanakan ziarah sekaligus ibadah di Kota Madinah Al Munawarrah dan Mekkah Almukaromah. Kami mengambil judul perjalanan umroh ini dengan “Perjalanan Umroh Jilid 1” Mengapa demikian, karena kami selalu ingin dan ingin beribadah lagi di tempat suci nan mulia ini di hari-hari yang akan datang. Untuk itu, kami selalu berharap dan memohon kepada Allah SWT agar kami juga memiliki judul “Perjalanan Umrah Jilid 2, 3, 4, dan seterusnya. Allohu Akbar. Ya Allah mudahkanlah urusanku, selamatkan aku dan sehatkanlah aku, aamiin.

Kami mengawali perjalanan ini dari Kota Madinah Almunawarah. Sebagaimana banyak diriwayatkan oleh para ahli agama bahwa pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah dulu bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Sayiddina Abu Bakar, Sayiddina Umar bin Khattab, dan Sayiddina Utsman bin Affan. Pada masa Sayiddina Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.

Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi. Ada beberapa catatan mengenai tempat suci nan mulia penuh berkah ini yang dapat diziarahi dan memperbanyak amalan ibadah disini, diantaranya:

1. MASJID NABAWI

Masjid ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh masjid lain selain masjidil haram, diantaranya :

a. Bahwa Nabi Muhammad SAW membeli tanah masjid dengan hartanya sendiri dan nabi dengan tangannya yang mulia ikut serta dalam pembangunannya.

b. Masjid ini termasuk ke dalam firman Allah SWT (QS At Taubah ayat 108) yaitu “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat didalamnya.

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman ia berkata: Abdurrahman bin Abu Said al Khudri melewatiku, lalu aku bertanya kepadanya “Bagaimana engkau mendengar bapakmu menjelaskan tentang masjid yang dibangun di atas taqwa itu? ia berkata, bapakku berkata : Aku Mendatangi Rosululloh SAW di salah satu rumah istrinya, kemudian aku bertanya, “Wahai Rosululloh, masjid manakah yang dibangun diatas taqwa itu? Kemudian beliau mengambil segenggam kerikil dan membantingkannya ke tanah, lalu bersabda ” Itu adalah masjid kalian ini- masjid madinah, Abu Salamah kemudian berkata, Aku bersaksi bahwa aku mendengar bapakmu mengatakan begitupula (Hadist Riwayat Muslim)

c. Nabi Muhammad SAW menetapkan masjid ini sebagai salah satu dari tiga tempat yang tidak boleh didatangi dengan sengaja, dengan maksud beribadah, kecuali kepadanya.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda : Tidak boleh menyengaja (memaksakan diri) melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rosul dan Masjid Aqsha (Muttafaq alaih)

d. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik seribu kali lipat dari shalat di tempat lain kecuali Masjidil Haram.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda : Shalat di Masjidku ini lebih baik seribu kali lipat dari shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram ((HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Zubair, Rosululloh SAW bersabda : Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali lipat dari masjid yang lain kecuali masjidil haram dan masjidil haram lebih utama seratus kali lipat dari shalat di masjidku ini (HR. Ahmad)

Pelipatgandaan diatas tidak terkait dengan shalat fardhu ataupun  sunah tetapi mencakup semuanya. Artinya shalat fardhu seribu kali lipat shalat fardhu dan shalat sunah seribu kali lipat shalat sunah.

e. Di Tempat ini terdapat suatu tempat yang istimewa dari tempat-tempat lainnya, yaitu tempat antara rumah Nabi SAW dan mimbar beliau. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Antara rumahku dan mimbarku terdapat Raudhah (Taman) dari taman-taman surga. dan mimbarku diatas telagaku” (HR. Bukhari, Muslim)

Pengkhususan Raudhah dari tempat-tempat lain di masjid dengan sifat tersebut menunjukan keutamaan dan keistimewaannya. Untuk mendapat keutamaan di temapt itu bisa dilakukan dengan melakukan shalat sunah, berdzikir, atau membaca al quran. Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT kami berkesempatan shalat dan berdoa’ ditempat yang mulia dan suci ini.

f. Berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya Radhiyallahu Anhuma yaitu Sayiddina Abu Bakar Ashiddiq RA dan Sayiddina Umar bin al Khattab RA. Adapun posisi kubur Nabi Muhammad SAW yang didepan arah barat daya dari kamar yang mulia. Wajah Nabi SAW menghadap kiblat dengan posisi badan miring ke kanan. Kepala ke arah barat dan kedua kakinya ke arah timur, lebih tinggi di dalam kamar ke arah barat dan dibelakang beliau dari pundaknya, posisi kubur Sayiddina Abu Bakar As Shiddiq RA, Wajahnya menghadap kiblat, menghadap punggung Nabi Muhammad SAW di belakang posisi Sayiddina Abu Bakar RA adalah posisi Sayiddina Umar RA, kepala tepat di pundak Sayiddina Abu Bakar RA dan wajahnya menghadap kiblat, menghadap punggung Sayiddina Abu Bakar RA.

Disyariatkan bagi yang mendatangi kota Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan salam kepada beliau dan kedua sahabatnya.

2. MASJID QUBA.

Alhamdulillah pada hari kedua kami singgah di Madinah Al Munawarrah, kami berkesempatan mengunjungi Masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW saat beliau hijrah dari Mekah menuju Madinah, beliau memasukinya dari arah Quba dan berhenti di tempat Bani Amr bin Auf. Itu terjadi pada waktu siang di hari Senin (Tarikh at-Thabari) pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108).

Nabi SAW membiasakan diri shalat di dalamnya setiap hari sabtu. Dari Abdullah bin Umar ia berkata : Rasulullah SAW biasa mendatangi masjid Quba baik dengan berkendaraan atau berjalan kaki, beliau shalat di dalamnya (Mutafaq alaih).

Kemudian, pahala shalat padanya sama dengan pahala umrah. Seperti di dalam hadist, dari Sahl bin Hunaif, Rosulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala umroh. (HR. An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim). Subhanalloh. Wallohu Akbar.

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk menziarahi masjid quba. Hadist tersebut diatas menunjukan keutamaan pergi ke sana dalam keadaan bersuci pada hari Sabtu dan shalat di dalamnya. Jika tidak memungkinkan mendatanginya pada hari Sabtu, disyariatkan baginya berziarah pada setiap waktu sesuai keadaannya.

3. Baqi Al Gharqad, Makam Utama Di Kota Nabi

Baqi adalah tempat yang di dalamnya terdapat sejumlah tumbuhan pohon dari berbagai jenis karenanya disebut Baqi al Gharqad. Gharqad sendiri adalah sejenis pohon berduri yang tumbuh disana. Namun tumbuhan itu sudah tidak ada, tinggal namanya. Baqi al Gharqad adalah areal pekuburan penduduk madinah dari sejak jaman Rasulullah SAW hingga sekarang. Diambil dari Majelis Taklim Dzikrullah Maula Aidid mencatat bahwa :

Saat itu malam telah menapaki separoh perjalanannya. Pada malam itu sendiri Rasulullah Saw. sedang berada di rumah Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. Mengira sang istri tercinta telah tidur pulas, tiba-tiba beliau mengambil jubahnya dan mengenakan kedua sandalnya pelan-pelan, lalu membuka pintu dan kemudian keluar pelan-pelan. Melihat hal itu, sang istri tercinta, yang ternyata belum tidur, dengan diam-diam bangun karena merasa cemburu, jangan-jangan beliau akan pergi ke rumah istri beliau yang lain, keluar rumah, dan mengikuti jejak langkah beliau yang sedang menapakkan kaki menuju Makam Baqi‘.

Setibanya di makam tersebut, Rasulullah Saw berdiri lama. Lalu, beliau berdoa dengan mengangkat kedua tangannya tiga kali. Ketika beliau membalikkan tubuh dan mulai menapakkan kaki menuju ke arah rumah, Aisyah pun kembali dan mendahului beliau. Dan, begitu beliau kembali ke rumah, Aisyah pun “menginterogasi” beliau, mengapa larut malam begitu pergi ke Makam Baqi‘.

“Aisyah!” jawab Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Jibrîl a.s. datang kepadaku ketika engkau melihatku tadi. Dia lalu memanggilku dengan suara pelan, agar tidak engkau ketahui. Maka, aku menjawab dengan suara pelan agar tidak engkau ketahui. Dia tidak mau masuk ke dalam rumah, karena engkau melepas pakaianmu. Kukira engkau telah tidur pulas, sehingga aku tidak ingin membangunkanmu dan aku khawatir engkau terkejut. Jibrîl mengatakan kepadaku bahwa Allah Swt. menyuruhku untuk mendatangi penghuni Makam Baqi‘ dan memohonkan ampunan bagi mereka.”

“Bagaimana semestinya yang harus kuucapkan kepada mereka, wahai Rasul?” tanya Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. “Ucapkanlah, ‘Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada penghuni makam, kaum mukmin dan muslim. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang selepas kami. Dan jika Allah menghendaki, maka sungguh kami akan menyusul kalian.’” jawab Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw., terutama tahun terahir menjelang beliau berpulang pada 11 H / 632 M, memang acap berziarah makam yang terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi: Makam Baqi‘ Al-Gharqad. Nama Baqi‘ diambil dari nama akar tetumbuhan yang tumbuh di makam itu. Sedangkan Al-Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang juga banyak terdapat di makam itu. Selain acap mengunjungi makam itu, beliau juga pernah menyatakan, barang siapa berpulang di Madinah dan dikebumikan di makan itu, beliau akan memberi syafaat kepadanya.

Menurut catatan sejarah, orang yang pertama dimakamkan di sini adalah ‘Utsman bin Mazh‘un, seorang sahabat dari kalangan Muhajirun yang terkenal saleh dan hidup sederhana, yang meninggal dunia pada 5 H/626 M. Sedangkan Ibrahim, putra pasangan suami-istri Rasul Saw. dan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir, adalah orang kedua yang dimakamkan di sini. Di makam ini pula terdapat makam para istri Rasul Saw: Aisyah binti Abu Bakar As ShiddiqSaudah binti Zam‘ahHafshah binti UmarZainab binti KhuzaimahUmmu Salamah binti Abu UmayyahJuwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan Shafiyyah binti Huyai. Sedangkan keluarga beliau yang dikebumikan di sini, selain putra-putri beliau, antara lain Abbas bin Abdul Muththalib, Hasan bin Ali, dan Ali Zain Al Abidin. Sementara di antara para sahabat yang dimakamkan di sini ialah Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas‘ud, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abu Waqqash. Di antara Imam empat mazhab, hanya Malik bin Anas yang dimakamkan di sini.

Sejak masa pemerintahan Dinasti Umawiyyah dengan pusat pemerintahan di Damaskus, Suriah, makam ini telah mengalami beberapa kali perbaikan dan perluasan. Namun, kemudian seluruh bangunan yang berada di atas makam ini dirubuhkan dan dibersihkan oleh Keluarga Sa‘ud yang mendirikan Kerajaan Arab Saudi. Selama di bawah pemerintahan keluarga tersebut, hingga dewasa ini, Makam Baqi‘ Al-Gharqad telah mengalami perluasan dua kali. Perluasan yang pertama dilakukan di masa pemerintahan Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz. Sedangkan perluasan kedua dilakukan di masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Sehingga, kini, makam yang kini dikitari dinding setinggi empat meter itu memiliki luas 174.962 meter persegi.

Jamaah perempuan tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman Baqi, dan biasanya para jammah ini dapat melihat tanah pemakaman melalui jeruji pagar pemakaman.

4. Berziarah di Makam Syuhada Uhud.

Pada kesempatan yang mulia ini juga kami berkesempatan berziarah di makam syuhada uhud. Syuhada uhud adalah umat muslim yang berperang/bertempur di jabal uhud yang dikenal dengan pertempuran uhud dan wafat serta dimakamkan di sekitar jabal uhud. Menurut riwayat, sebagaimana dalam catatan wikipedia indonesia menulis bahwa Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badr. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan. Disebut Pertempuran Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Rasulullah menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud di bagian barat. Tentara Islam berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front kurang lebih 1.000 yard. Sayap kanan berada di kaki bukit Uhud sedangkan sayap kiri berada di kaki bukit Ainain (tinggi 40 kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan Muslim aman karena terlindungi oleh bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari bukit Ainain dan menyerang dari belakang, untuk mengatasi hal ini Rasulullah menempatkan 50 pemanah di Ainain dibawah pimpinan Abdullah bin Jubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas yaitu “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami.”

Di belakang pasukan Islam terdapat 14 wanita yang bertugas memberi air bagi yang haus, membawa yang terluka keluar dari pertempuran, dan mengobati luka tersebut. Di antara wanita ini adalah Fatimah, putri Rasulullah yang juga istri Ali. Rasulullah sendiri berada di sayap kiri.

Posisi pasukan Islam bertujuan untuk mengeksploitasi kelebihan pasukan Islam yaitu keberanian dan keahlian bertempur. Selain itu juga meniadakan keuntungan musuh yaitu jumlah dan kavaleri (kuda pasukan Islam hanya 2, salah satunya milik Rasulullah). Abu Sufyan tentu lebih memilih pertempuran terbuka dimana dia bisa bermanuver ke bagian samping dan belakang tentara Islam dan mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengepung pasukan tersebut. Tetapi Rasulullah menetralisir hal ini dan memaksa Abu Sufyan bertempur di front yang terbatas dimana infantri dan kavalerinya tidak terlalu berguna. Juga patut dicatat bahwa tentara Islam sebetulnya menghadap Madinah dan bagian belakangnya menghadap bukit Uhud, jalan ke Madinah terbuka bagi tentara kafir.

Tentara Quraish berkemah satu mil di selatan bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan pasukan ini menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl, masing-masing berkekuatan 100 orang. Amr bin Al Aas ditunjuk sebagai panglima bagi kedua sayap tapi tugasnya terutama untuk koordinasi. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera Quraish dibawa oleh Talha bin Abu Talha.

Sebab kekalahan dalam Perang Uhud

Kisah ini ditulis di Sura Ali ‘Imran ayat 140-179. Dalam ayat2 di Sura Ali ‘Imran, Muhammad menjelaskan kekalahan di Uhud adalah ujian dari Allah (ayat 141) – ujian bagi Muslim mu’min dan munafik (ayat 166-167).

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (ayat 142)? Bahkan jika Muhammad sendiri mati terbunuh, Muslim harus terus berperang (ayat 144), karena tiada seorang pun yang mati tanpa izin Allah (ayat 145). Lihatlah para nabi yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah (ayat 146). Para Muslim tidak boleh taat pada kafir (ayat 149), karena Allah Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut (ayat 151).”

Ayat2 di atas tidak menunjukkan sebab yang sebenarnya mengapa Muhammad dan Muslim kalah perang di Uhud. Penjelasan yang lebih lengkap bisa dibaca di Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 276

Memang benar bahwa para Muslim hampir saja mampu menghabisi musuh2nya kaum pagan Quraish ketika kemudian perhatian mereka teralihkan. Ketika tentara Muslim melihat para wanita Quraish mengangkat bajunya sehingga menampakkan gelang pergelangan kaki dan kaki2 mereka, mereka mulai berteriak-teriak dan menzalimi mereka. Tanpa peduli akan perintah2 Muhammad, mereka meninggalkan tempat2 jaga mereka dan lalu mengejar wanita2 ini – karena itulah Allah mengijinkan kaum pagan membunuhi para Muslim yang meninggalkan kedudukannya sebagai suatu ujian (ayat 152-153). Tentara Muslim kalah karena salah mereka sendiri (ayat 165).

5. Berziarah ke Masjid Tempat Rasulullah Memimpin Pasukan Khandaq

Hari ketiga di Madinnah kami menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid yang dikenal sebagai masjid fattah. Republika pada tanggal 05 Mei 1995 pernah menulis tentang masjid yang penuh sejarah tersebut. Syahruddin El Fikri dari Republika mencatat bahwa Sebelum peperangan melawan kaum kafir Quraisy di daerah Khandaq ini, umat Islam sangat khawatir menghadapi mereka. Pasalnya, jumlah pasukan Quraisy dan sekutunya mencapai sekitar 10 ribu orang. Sementara itu, dari kalangan umat Islam, hanya sebanyak empat ribu orang. Sebuah peperangan yang tidak seimbang. Hal ini merupakan ujian yang sangat berat bagi kaum Muslimin.

Dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan, beratnya kondisi yang dihadapi umat Islam. “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) padamu ketika datang kepada tentara-tentara kepadamu. Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan Allah Maha Melihat akan apa yang kami kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawah. Dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacammacam prasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat (berat).” (QS Al-Ahzab [33]: 9-11).

Bahkan, saat penggalian parit, Rasul SAW turun tangan untuk membantu kaum Muslimin. Tak hanya pekerjaan untuk menyelesaikan galian parit yang mencapai lebih dari lima kilometer itu, tetapi juga karena minimnya bekal makanan.

Abu Thalhah meriwayatkan, saat penggalian itu, kaum Muslimin terpaksa mengganjal perut mereka dengan beberapa buah batu. “Ketika kami mengeluh kelaparan kepada Rasulullah, kami berjalan sambil mengganjal perut dengan beberapa buah batu. Dan kami menyaksikan Rasulullah juga mengganjal perutnya dengan dua buah batu.”

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; “Ketika kami sedang menggali parit pada Perang Khandaq, kami menemukan tanah yang keras, maka mereka mengadukan kepada Rasul, kemudian Rasul menjawab; “Biarlah aku sendiri yang mencangkulnya.” Kemudian Rasul mencangkulnya, dan akhirnya tanah yang keras itu berubah menjadi lunak bagaikan onggokan pasir.” (HR Bukhari).

Ungkapan serupa juga diriwayatkan Imam Baihaqi dari Al-Barra bin Azib Al-Anshariy RA. “Pada saat kaum Muslimin menggali parit, mereka melihat sebuah batu besar yang tidak dapat dipecahkan dengan cangkul atau beliung mereka. Mereka memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Dengan tiga kali ayunan beliung Rasul, batu besar itu hancur berkeping-keping.”

Maka, ketika penggalian parit selesai, beberapa hari kemudian, datanglah pasukan kafir Quraisy. Menyaksikan jumlahnya yang demikian besar, Rasul SAW berdoa agar Allah membantu perjuangan kaum Muslimin. Doa beliau itu dipanjatkan saat berada di Masjid Fatah. Beliau berdoa selama tiga hari berturut-turut. Dan akhirnya, peperangan ini berhasil dimenangkan kaum Muslimin atas bantuan Allah yang mengirimkan tentara Malaikat yang tak terlihat.

Dinamakan dengan Masjid Fatah disebabkan umat Islam memperoleh kemenangan. Al-Fatah berarti kemenangan. Masjid ini berada di atas bukit Sila (Sal’a). Bukit ini disebut juga dengan nama Jabal as-Sila’.

6. Berziarah di Masjid Qiblatain.

Kami juga berkesempatan mengunjungi Masjid Qiblatain. Masjid Qiblatain (artinya: masjid dua kiblat) adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.

Menurut sejarah, Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah.

Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah salat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144[1], yang artinya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”[2]

Setelah turunnya ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara salatnya, kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.

Masjid Qiblatain telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut.[1] Sebelumnya Sultan Sulaiman telah memugarnya di tahun 893 H atau 1543 M. Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat ziarah yang biasa dikunjungi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.

7. Perjalanan menuju Baitullah di Masjidil Haram.

Tepat pada hari Sabtu, tanggal 4 Februari 2012 kami beserta rombongan menuju Kota Mekkah selama kurang lebih 6 jam sampailah kami di Kota Mekkah tepat Ba’da Magrib. Selanjutnya kami langsung cek in dan menaruh barang-barang di Hotel Dar El Eiman tepat diseberang Masjidil Haram. Selesai cek in di Hotel tersebut kami langsung menuju masjidil haram untuk menunaikan shalat tahyatul masjid, qabliyah isya, isya dan ba’da isya dilanjutkan dengan thawaf mengelilingi Ka’bah karena memang kami berniat umroh setelah mengambil miqat/niat umroh di salah satu masjid di Kota Madinah. Selesai thawaf kami beserta rombongan menunaikan shalat ba’da thawaf 2 rakaat dimana rakaat pertama membaca surat al-kafiruun dan rakaan kedua surat al-ikhlas. Selesai shalat kami melakukan sa’i lari-lari kecil antara bukit shafa ke marwa sebanyak 7 kali dan diakhiri dengan berdo’a di bukit marwa dilanjutkan menggunting rambut. Akhirnya selesai sudah ibadah umroh kami berenam di hari pertama menginjakan kakinya di Kota Suci Nan Mulia Mekkah Al Mukaromah.

Menurut catatan di Wikipedia berbahasa Indonesia disebutkan bahwa Mekkah atau Makkah al-Mukarramah (bahasa Arab: مكة المكرمة) atau disingkat dengan Makkah merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi. Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji. Di kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya. Bangunan Ka’bah ini dijadikan patokan arah kiblat untuk ibadah salat umat Islam di seluruh dunia. Kota ini merupakan kota suci umat Islam dan tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, kota ini disebut juga dengan 11 nama yang berbeda. Imam Besar masjid ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais, seorang imam yang dikenal dalam membaca Al Qur’an dengan artikulasi yang jelas dan suara yang merdu.

Perkembangan kota Mekkah tidak terlepas dari keberadaan Nabi Ismail dan Hajar sebagai penduduk pertama kota ini yang ditempatkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Pada perkembangannya muncul orang orang Jurhum yang akhirnya tinggal di sana. Pada masa berikutnya kota ini dipimpin oleh Quraisy yang merupakan kabilah atau suku yang utama di Jazirah Arab karena memiliki hak pemeliharaan terhadap Ka’bah. Suku ini terkenal dalam bidang perdagangan bahkan pada masa itu aktivitas dagang mereka dikenal hingga Damaskus, Palestina dan Afrika. Tokoh sebagai kepala kabilah Quraisy adalah Qussai yang dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.

Pada tahun 571, Nabi Muhammad SAW keturunan langsung dari Nabi Ismail serta Qussai, lahir di kota ini dan tumbuh dewasa. Pertama kali menerima wahyu dari Allah namun ajarannya ditolak kaumnya yang saat itu masih berada dalam kegelapan pemikiran (Jahilliyah) sehingga berpindah ke Madinah. Setelah Madinah berkembang, akhirnya nabi Muhammad kembali ke Mekkah dalam misi membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah yang dikenal dengan (Fathul Makkah).

Pada masa selanjutnya Mekkah berada di bawah administrasi Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah, serta para Khalifah yang saat itu berkuasa di Damaskus (Dinasti Ummayyah), Bagdad (Dinasti Abbasiyah) dan Turki (Usmaniyah). Kemudian setelah hancurnya sistem kekhalifahan, kota ini disatukan di bawah pemerintahan Arab Saudi oleh Abdul Aziz bin Saud yang kemudian menjadi pelayan bagi kedua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah.

Masjidil Haram, kadangkala disebut juga dengan Masjid al-Haram ataupun Al-Masjid al-Ḥarām (Arab : المسجد الحرام), merupakan masjid yang terletak di Kota Makkah Al Mukharamah, yang dibangun mengelilingi Ka’bah, yang menjadi arah kiblat umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat. Selain itu di masjid inilah salah satu rukun ibadah haji yang wajib dilakukan umat Islam yaitu tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Sebagai kota suci umat Islam, berdasarkan hukum yang berlaku di Arab Saudi, bagi Non-Muslim tidak diijinkan memasuki kota Mekkah ini

Kakbah (bahasa Arab: الكعبة, transliterasi: Ka’bah) adalah sebuah bangunan mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.

Sejarahwan, narator dan lainnya memiliki pendapat berbeda tentang siapa yang telah membangun Kakbah. Beberapa pendapat itu ada yang mengatakan Malaikat, Adam dan Syits.Dimensi struktur bangunan kakbah lebih kurang berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali 12,62m. Juga disebut dengan nama Baitullah.

Kakbah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab:بيت ال عتيق, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Kakbah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.

Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad pada salah satu sudut Kakbah, namun berkat penyelesaian Nabi Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Pada saat menjelang Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, bangunan Kakbah yang semula rumah ibadah agama monotheisme (Tauhid) ajaran Nabi Ibrahim telah berubah menjadi kuil pemujaan bangsa Arab yang di dalamnya diletakkan sekitar 360 berhala/patung yang merupakan perwujudan tuhan-tuhan politheisme bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Allah Sang Maha Pencipta tidak boleh dipersekutukan dan disembah bersamaan dengan benda atau makhluk apapun jua dan tidak memiliki perantara untuk menyembahNya serta tunggal tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur’an). Kakbah akhirnya dibersihkan dari patung-patung agama politheisme ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah dan dikembalikan sebagai rumah ibadah agama Tauhid (Islam).

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci kakbah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Pada awalnya bangunan Kakbah terdiri atas dua pintu serta letak pintu Kakbah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Kakbah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan biaya,maka bangunan Kakbah dibuat hanya satu pintu. Adapula bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Kakbah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Kakbah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.

Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali Kakbah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam sebuah hadits perkataannya: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Kakbah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Kakbah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.

Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu diatas pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan penguasa daerah Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Kakbah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Kakbah berdasarkan bangunan di masa Nabi Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi Nabi Ibrahim. Kakbah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali kakbah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Kakbah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

Zamzam ( زمزم) dalam bahasa Arab berarti banyak, melimpah-ruah. Air zamzam dianggap sebagai air suci oleh umat Islam. Zamzam merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Kabah, berkedalaman 42 meter. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Siti Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah, atas petunjuk Malaikat Jibril, tatkala Ismail, putera Siti Hajar, mengalami kehausan di tengah padang pasir, sedangkan persediaan air tidak ada.

Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarakaatuh.

SELAMAT BERJUMPA LAGI DI PERJALANAN UMRAH JILID 2 …………………………… aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Februari 2012 by .

Pos-pos Terbaru

Kategori

%d blogger menyukai ini: