Catatan Si Kaswo (CsK)

pergi karena tugas….pulang karena beras

Kemuliaan Ibu dan Kekeliruan Kita

Sahabatku …………..

Mari kita sama – sama membayangkan dan rasakan sejenak, bagaimana selama sembilan bulan lebih sepuluh hari ibu memboyong kita di dalam rahimnya. Sekali lagi, rasakan dan bayangkan. Bayangkan, ketika pertama kali dia mual dan muntah di awal masa kehamilannya (Ngidam – Bahasa Jawa). Bayangkan pula, ketika kita lahir ibulah yang merawat dan menyusui kita. Bayangkan, ketika kita kelaparan ibulah yang menjadi orang pertama memasakkan makanan untuk kita. Bayangkan, ketika kita menangis ibulah yang membujuk kita untuk berhenti menangis. Hanya seorang ibulah yang sanggup bersabar menghadapi ini semua.

Dan sekarang lihatlah kita, sudah besar ada yang jadi Presiden, Menteri, Gubernur, Sekretaris Jenderal, Bupati, Walikota, Kepala Biro. TAHUKAH ANDA ! Anda sekarang menjadi orang sukses tidak lain dan tidak bukan karena bimbingan dan do’a seorang IBU. Allohu Akbar!

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Kemudian di dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah R.A. “Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata, ’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ’Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ’Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ’Kemudian siapa lagi, ’Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Bapakmu’ ” (Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548).

Sementara itu, Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata : “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Allohu Akbar.

Nah, betapa banyak kebaikan ibu, sadar atau tidak terkadang kita lupa memuliakan ibu. Bahkan, terkadang secara tidak sadar kita membalas susah-payahnya dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akan kita dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Saat ini, cukup banyak fenomena-fenomena ‘kezoliman’ anak terhadap ibunya.

Tatkala ibunya membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, dijadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisinya. Sebagian anak yang tidak peduli dengan ibunya yang sudah renta, kenyang dalam keadaan dia lapar. Bahkan puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anaknya daripada ibu yang telah merawat dan membesarkannya. Dilupakan semua kebaikan yang pernah dia buat.

Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, “Itu belum bisa membalas”. Kemudian juga beberapa riwayat disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas.

Sahabatku.

Mari kita datangi Ibu Kita, selagi beliau masih hidup dan doakan beliau “Robbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kama Robbayaani Syaghira”

SELAMAT HARI IBU

Smoga Bermanfaat. Jazakumulloh Khoiron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Desember 2011 by .

Pos-pos Terbaru

Kategori

%d blogger menyukai ini: